Kenapa 2 Mata, 2 Telinga dan 1 Mulut..?

October 4, 2010


Kita lahir dengan 2 mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu kedepan, pandanglah masa depan kita.
Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.
Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.
Kita lahir dengan 2 mata, 2 telinga tapi kita Cuma diberi 1 buah mulut. Itu Artinya Kita harusnya lebih mendengar, melihat 2 x lebih banyak daripada berbicara. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan. Karena ucapan yang menyakitkan sangat sulit ditarik kembali. Sehingga ingatlah bicara yang perlu tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.
Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.
Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.

Cinta,Uang,Wanita dan Keluarganya

Uang Adalah Segalanya


Sang ayah dan ibu sangat murka ketika mengetahui anak perempuan mereka hamil.
“Siapa si bedebah itu,” jerit sang ayah, sedang si ibu menangis.
“Suruh dia datang kesini!”
Si anak pun menelepon pria yang menghamilinya.
Setengah jam kemudian sebuah mobil Ferrari merah berhenti di depan rumah.
Seorang lelaki separuh baya keluar dari mobil, memberi salam lalu masuk kerumah.
Lelaki itu berhadapan dengan ibu dan ayah perempuan yang telah dihamilinya.
Dia berkata, “Saya lelaki yang telah menghamili anak anda. Tapi terus
terang saya
katakan saya tidak dapat menikahi anak anda karena isteri saya tak
mengizinkan.
Namun bagaimanapun, saya akan bertanggung jawab. Sekiranya anak anda melahirkan
seorang bayi perempuan saya akan wasiatkan untuknya dua buah supermarket,
sebuah hotel dan uang tunai 5 milyar rupiah. Sekiranya dia melahirkan anak
lelaki saya akan wasiatkan untuknya dua buah kilang, dua buah supermarket,
dua buah hotel dan uang tunai 10 milyar rupiah.
Tapi sekiranya anak anda keguguran apakah yang harus saya lakukan?”
Sang ayah berfikir. Si ibu berhenti menangis.
Akhirnya sambil menepuk bahu lelaki itu, sang ayah berkata,
“Kalau keguguran, kamu coba lagi ya !!”




Saya Bosan

Borring
 Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.
Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca.
Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas.
Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.
Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya.
Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya itu dingin-dingin saja.
Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut.
Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu.
Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.
Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.
Lelaki miskin itu melanjutkan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.
Teman, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktifitas lainnya, seperti belajar, nonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam, kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti hari kemarin, hal itu berulang kali kita lakukan bertahun-tahun !! Hingga akhirnya tiba saatnya
Untuk kita bekerja, tak jauh beda dengan bersekolah, kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore/malam harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali bekerja lagi, dan melakukan aktifitas yang sama seperti kemarin, sampai kapan?
Pernahkah kita merasa bosan dengan aktifitas hidup kita?
Kalau ada di antara teman²ku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasehatku ini :
“Bila hidup ini cuman suatu rentetan perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup.”
Artinya, jangan melihat aktifitas yang kita lakukan ini sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas , karena jika kita menganggap demikian, maka aktifitas kita akan amat sangat membosankan !!
Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kamu akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya, “Setiap hari merupakan hadiah baru yang menyimpan sejuta arti.”

Kamu Mengeluh Soal Gaji...?

October 2, 2010

Anda Seorang Karyawan / Karyawati..?
Ini sebuah cerita yang semestinya sudah anda ketahui benar dan salahnya...

Suatu pagi Andi memutuskan untuk menghadap ke Pak Joko, direktur personalia dan setelah saling mengucap salam maka Andi segera dengan bersemangat menyampaikan maksud hati dan segala uneg-unegnya kepada Pak Joko untuk meminta kenaikan gaji.Pak Joko setelah menatapnya beberapa saat kemudian tertawa, mempersilahkannya untuk duduk dan berkata, “Ha ha ha, dengar kawan, anda itu bahkan belum bekerja untuk perusahaan ini meskipun satu hari..! masa sekarang mau minta naik gaji?”Tentu saja Andi sangat terkejut mendengar hal itu namun pak Joko segera meneruskan,
Joko: “Coba katakan ada berapa hari dalam setahun?”
Andi: “365 hari dan kadang-kadang 366 hari.”
Joko: “Betul, sekarang ada berapa jam dalam sehari?”
Andi: “24 jam.”
Joko: “Berapa jam kamu bekerja dalam sehari?”
Andi: “Dari jam 08:00 s/d 16:00 jadi 8 jam sehari.”
Joko: “Jadi, berapa bagian dari harimu yang kamu pakai bekerja?”
Andi: “(mulai ngitung dalam hati…..8/24 jam = 1/3)….sepertiga! ”
Joko: “Wah pinter kamu!, Sekarang berapakah 1/3 dari 366 hari?”
Andi: “122 (1/3×366 = 122 hari)”
Joko: “Apakah kamu bekerja pada hari Sabtu dan Minggu?”
Andi: “Tidak Pak!”
Joko: “Berapa jumlah hari Sabtu dan Minggu dalam setahun?”
Andi: “52 Sabtu ditambah 52 Minggu = 104 hari.”
Joko: “Nah, kalau kamu kurangkan 104 hari dari 122 hari, berapa yang tinggal?”
Andi: “18 hari.”
Joko: “Nah, saya sudah kasih kamu 12 hari cuti tiap tahun. Sekarang kurangkan 12 hari dari 18 hari yang tersisa itu berapa hari yang tinggal?”
Andi: “6 hari.”
Joko: “Di hari Natal dan Tahun Baru apakah kamu bekerja?”
Andi: “Tidak pak!”
Joko: “Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?”
Andi: “4 hari.”
Joko: “Di hari Idul Fitri dan Idul Adha apakah kamu bekerja?”
Andi: “Tidak pak!”
Joko: “Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?”
Andi: “2 hari.”
Joko: “Sekarang sisa tersebut kurangi dengan Libur Waisak, Imlek, Nyepi, 1 Muharram, Maulid Nabi, Isra’ Mikraj, Wafat Yesus, Kenaikan Isa al masih, Proklamasi.. ………, berapa hari yang tersisa?”
Andi: “…???….. ….gak ada sisa pak.”
Joko: “Jadi sekarang anda mau menuntut apa?”
Andi: “Saya mengerti pak, sekarang saya sadar bahwa selama ini saya sudah makan gaji buta dan telah mencuri uang perusahaan dengan tidak bekerja sedikitpun. Saya minta maaf”
Joko: “ya udah, keluar sana!”

Kisah Sebuah Jam

Alkisah, seorang pembuat jam berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”
“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” “Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.
“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Itu tergantung bagaimana kita menyiasati pekerjaan dan tugas kita, bila kita bisa bagi2 menjadi fragmen-fragmen yang kecil.
Jangan berkata “tidak” sebelum Anda pernah mencobanya.
Semangat Full (+)